JAKARTA - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi
(BPPT) berupaya untuk mengantisipasi terjadinya curah hujan tinggi di
wilayah Jakarta dan sekitarnya. Salah satu metode yang dilakukan ialah
dengan menggunakan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC).
Kepala
Bidang Pengkajian Penerapan Teknologi Pembuatan Hujan ( BPPT), Tri
Handoko Seto menjelaskan bahwa Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) adalah
upaya manusia untuk melakukan intervensi terhadap proses yang terjadi
dalam awan dan atau lingkungannya.
“Di alam, terdapat kondisi di
mana awan dengan sangat cepat berproses menjadi hujan. Ada pula awan
yang sulit atau perlu proses lama untuk menjadi hujan,” terang Seto
melalui pernyataannya yang diperoleh
Okezone, Jumat (18/1/2013).
Lebih
lanjut ia mengungkapkan, selain awan memerlukan proses lama untuk
menjadi hujan, terdapat pula awan yang buyar tidak menjadi hujan.
“Dengan mempelajari proses-proses alam tersebut, maka TMC berupaya
mengondisikan awan dan atau lingkungannya seperti proses alami
tersebut,” imbuhnya.
Ia meyakini bahwa TMC bisa digunakan untuk mengurangi curah hujan yang berlebih, yang mengakibatkan banjir.
“Untuk
kasus Jakarta, banjir terjadi ketika terjadi hujan dengan intensitas
yang tinggi daerah aliran sungai (DAS) yang melingkupi Jakarta (DAS
Ciliwung, DAS Pesangggrahan, DAS Cisadane, dan lain-lain), baik di
bagian hulu (Bogor) maupun hilir (Jakarta), apalagi jika di hulu dan
hilir,” jelasnya.
Prinsip TMC ini antara lain, mempercepat proses
awan menjadi hujan terhadap awan-awan yang sedang tumbuh di daerah
'upwind' yang bergerak memasuki DAS. Dengan demikian, awan-awan tersebut
akan turun menjadi hujan sebelum masuk DAS.
Bahkan menurutnya,
awan-awan yang tumbuh di Jakarta juga bisa dipercepat proses hujannya
agar tidak sempat menjadi awan yang sangat besar dan menjadi hujan yang
banyak. Metode ini dieksekusi menggunakan pesawat terbang dan bahan
semai powder.
Selain itu, prinsip TMC juga diterapkan guna
mengganggu proses pertumbuhan awan di dalam DAS yang bergerak
meninggalkan DAS, agar awan tidak menjadi hujan di dalam DAS. Metode ini
dieksekusi menggunakan peralatan darat dan atau pesawat berbahan semai
flare.
Prinsip TMC juga dapat “menyulitkan” pembentukan awan
besar (cumulonimbus), sehingga curah hujan yang turun ke permukaan tanah
akan berkurang. Metode ini dieksekusi menggunakan pesawat yang mampu
terbang pada ketinggian di atas 20 ribu kaki dengan menggunakan bahan
semai inti es.
Ia mengatakan, teknologi ini diperkirakan akan
mampu mengurangi curah hujan di DAS Jakarta lebih dari 30 persen.
“Pengalaman penerapan teknologi ini di Jakabaring Palembang pada saat
SEA GAMES 2011, menunjukkan hasil yang sangat memuaskan,” pungkasnya